Minggu, 11 Desember 2011

Sebuah Harapan

 Oleh: Gita Farannisa

          Aku mencintaimu saat pertama kali kita bertemu. Aku mencintaimu bukan karena kepandaianmu dalam berbicara di depan umum. Aku mencintaimu bukan karena keingintahuanmu tentang sejarah Indonesia. Namun aku mencintaimu karena permintaan hati ini yang selalu menginginkan kehadiranmu.
          Tahukan kamu di setiap malam aku selalu memimpikanmu? Tahukah kamu disetiap sujud aku selalu berdoa untukmu? Wahai lelaki yang selalu hadir dalam mimpiku, sadarkah kamu bahwa aku di sini menunggumu? Menunggumu untuk sadar akan kehadiranku di setiap kegiatan yang kamu lakukan di kampus tercinta ini.
          Saat kamu berbicara tentang revolusi di sebuah acara, aku hadir. Saat ada diskusi mengenai “Indonesia pada Masa Sekarang”, aku hadir. Bahkan saat kamu melakukan demontrasi di depan Gedung MPR, aku hadir! Aku selalu hadir di setiap acara yang kamu hadiri.
***
          Mengharapkanmu untuk menjadi kekasihku sama saja seperti aku mengharapkan David Beckham menjadi sopirku. Mengharapkan Dimas Andrean menjadi tukang kebunku. Aku tak mungkin menggapai bintang di langit. Tak mungkin meraih bunga Edelwise di puncak gunung Himalaya. Itu semua akan menjadi impianku sampai waktu ku menutup mata.
          Aku hanya perempuan biasa yang memakai kacamata tebal dan hobi membaca novel. Aku tidak mungkin bisa meraihmu, apalagi setelah aku mengetahui bahwa kamu tidak menyukai “fiksi.” “Fiksi hanyalah khayalan. Untuk apa kita membaca buku yang isinya khayalan semua?” Kata-kata itu yang sempat aku tangkap saat seseorang menanyai pendapatmu tentang fiksi.
          “Ya tuhan… Jika takdirku bukan bersamanya, maka hapuslah perasaan ini. Perasaan yang begitu dasyat saat aku melihat dirinya. Aku sendiri tidak mengerti mengapa perasaan ini selalu ada saat aku melihat lelaki itu.”
          Harapan hanya tinggal harapan. Entah sampai kapan aku berharap agar kamu bisa melirikku walau hanya sedetik saja. Mungkinkah suatu saat nanti kamu akan melirikku? Ah sudahlah, selama ini aku hanya berharap pada suatu hal yang tidak pasti.


note: Cerpen ini pernah menang dalam lomba FLP Ciputat, angkatan 8, kelompok 7.

Ayah, I Love You

Oleh: Gita Farannisa

Aku adalah Prima, anak tunggal dari pasangan Pak Bagio dan Ibu Siska. Aku tinggal di sebuah rumah sederhana di sudut kota Cilegon. Ayahku adalah seorang pegawai negeri, beliau mengajar di salah satu Sekolah Dasar di kota Cilegon. Sedangkan Ibuku, dia adalah wanita karir yang harus bekerja di luar kota. Ibu baru bisa pulang saat akhir pekan saja.

Sabtu, 01 Oktober 2011
          Hari ini ibu pulang, ayah begitu antusias menunggu kedatangan ibu di teras rumah. Tapi tidak dengan aku, aku hanya duduk di ruang tv sambil memainkan blackberry. Aku tidak peduli ibu mau datang atau tidak.
Setibanya ibu di rumah, ayah langsung menyambutnya dan langsung menyuguhkan segelas teh hangat dihadapan ibu. Setelah itu ibu dan ayah langsung merencanakan acara untuk malam minggu kali ini. Mereka berdua berencana pergi ke sebuah tempat hiburan di kota Cilegon. Sedangkan aku? Tugasku malam ini adalah menunggu rumah. “Ah memangnya rumah ini ada yang mau membawanya.” Batinku.
          Tidak tahu kenapa saat ibu di rumah, aku merasa ketenanganku terganggu. Aku merasa ibu mengambil semua perhatian ayah dari aku. Ibu sama sekali tidak pernah memperhatikanku, dia hanya memberikan perhatiannya kepada ayah saja. Tidak seperti ayah, kalau ibu tidak ada di rumah, ayah selalu membuatkanku nasi goreng dan juga segelas susu coklat hangat setiap pagi.  Oleh karena itu, aku merasa kedatangan ibu menggaggu ketanangan jiwaku.
         
Minggu, 02 Oktober 2011
          Tepat jam 10:00 Wib nanti, ibu akan kembali ke Jakarta. Dan tidak tahu kenapa, hatiku merasa senang saat ibu kembali ke Jakarta. Ayah menyuruhku untuk mengantar ibu sampai ke halaman rumah. Tapi aku menolak. Aku masuk ke kamar dan mengkunci pintu kamar. Aku berkata dalam hati “Aku berharap, weekend  besok ibu tidak pulang. Agar nanti aku bisa menghabiskan malam minggu berdua bersama ayah.”
          Dan siang harinya, saat ibu kembali ke Jakarta, aku mengajak ayah untuk pergi ke sebuah Mall dengan alasan aku ingin membeli sepatu sekolah yang sudah rusak. Namun itu semua bohong, sepatu sekolahku masih bagus, sepatu yang baru di belikan ayah sekitar dua bulan terakhir selalu aku rawat. Alasan itu hanya alasan belaka supaya aku bisa menghabiskan waktu berdua bersama ayah.

Senin, 03 Oktober 2011
          Jam sekolah sudah berakhir. Teman-temanku mengajakku pergi ke Mall, tapi aku menolak. Hari ini aku ingin menghabiskan waktu di rumah bersama ayah, hanya berdua.
          Tak lama setelah aku sampai di rumah, ayah tiba. Beliau membawakan dua bungkus nasi goreng yang ia beli di tempat  mengajarnya. Aku langsung mengambil nasi goreng yang di bawa oleh ayah dan langsung menyiapkannya di meja makan. Setelah makan siang selesai, aku dan ayah bergegas melaksanakan pekerjaan yang rutin kami lakukan setiap hari senin dan selasa, yaitu melukis. Ayah senang sekali melukis, setiap hari senin dan selasa aku rutin belajar melukis bersama beliau. Sebenarnya aku tidak menyukai seni, apalagi seni lukis, tapi karena ayah yang memintaku untuk meneruskan hobinya dan juga beliau sendiri yang ingin mengajariku, aku rela untuk belajar melukis. Asalkan kegiatan itu aku lakukan bersama ayah.
Ayah mengajariku melukis dengan cara memeganggi tanganku dari belakang dan mulai menggoreskan kuasnya di atas kanvas. Seperti anak TK yang baru belajar menggambar. Dan tidak tahu kenapa saat ayah mengajari aku melukis dengan cara seperti itu, jantungku berdetak dengan kencang. Seperti seorang perempuan yang sedang melukis dengan kekasihnya. Tapi ini aku lakukan dengan ayah. “Mungkinkah aku…?” Pertanyaan itu yang terlintas di pikiranku. Tapi seketika itu juga ayah menyadarkanku dari lamunan.

Selasa, 04 Oktober 2011
          Hari ini seharusnya ada jam tambahan ekonomi, tapi aku bilang kepada guruku kalau aku harus cepat-cepat pulang untuk merawat ayah.
“Semalam ayahku demam tinggi, bu. Aku harus cepat-cepat pulang, aku takut kalau ayahku nanti kenapa-kenapa” jelas aku kepada Ibu Rika.
Sebenarnya itu hanya alasanku saja untuk pulang lebih cepat. Aku ingin cepat-cepat bertemu ayah, makan siang bersamanya dan menyelesaikan lukisan kami berdua yang kemarin belum selesai.
Ibu Rika pun mengizini aku pulang, tapi dengan syarat, kalau ada jam tambahan ekonomi  lagi aku harus ikut. Aku mengiakan saja apa yang Ibu Rika katakan. Kalau urusan mesti ikut jam tambahan ekonomi lain waktu lagi, itu tergantung dengan suasana hatiku. Bila rasa kangen ku kepada ayah sudah begitu bergejolak, aku akan memikirkan alasan yang lain untuk bisa pulang ke rumah dan bertemu dengan ayahku lagi.
Seperti biasa, aku yang pulang lebih dulu. Aku langsung menyiapkan alat-alat melukis yang kemarin sempat ayah bereskan. Tak lama kemudian ayah datang dan membawakan dua bungkus opor ayam.
Setelah kami makan, kami langsung menyelesaikan lukisan kami yang kemarin. Dan lagi-lagi, tidak tahu kenapa saat ayah berada 5cm di samping aku, jantungku merasa berdetak dengan kencang. Dan hal ini belum pernah aku rasakan kepada siapapun, terutama sama teman perempuan di sekolahku.

Rabu, 05 Oktober 2011
          Hari ini sekolah libur dikarenakan ada rapat antar komite sekolah, kepala sekolah, dan guru-guru di sekolahku. Aku bingung mau ngapain hari ini? Sedangkan ayah masih mengajar. Akhirnya setelah menonton TV selama tiga jam, aku mempunyai ide. Aku akan menyusul ayah di tempatnya mengajar, Setelah itu aku akan mengajaknya ke kafe yang tak jauh dari tempatnya mengajar.
          Di kafe Sukaria, aku bercanda dengan ayah. Ayah menanyakan banyak hal kepadaku, dari teman-temanku sampai nilai ujianku.
Tapi tiba-tiba sebuah pertanyaan yang tidak pernah aku pikirikan keluar dari mulut ayah Kamu sudah punya pacar, Prim?”
Pertanyaan itu mengagetkanku.“Kenapa tiba-tiba ayah menanyakan aku hal seperti ini?” tanyaku dalam hati.
“Belum yah, emang kenapa?” tanyaku.
“Kamu itu gimana sih? Umur kamu itu sudah 17 tahun dan ayah pikir kamu sudah cukup umur untuk mempunyai pacar. Siapa teman perempuan yang sekarang lagi dekat dengan kamu?” tanya ayahku lagi.
“Enggak ada yah.” Jawabku dengan singkat.
“Gimana sih? Umur sudah 17 tahun, tapi teman perempuan yang lagi dekat sama kamu enggak ada.” Kata ayah dengan nada suara sedikit meninggi.
Selama ini aku tidak mempunyai teman dekat, bagaimana aku bisa jatuh cinta lalu pacaran? “Ah ayah.” Batinku. Aku tidak bisa menyukai teman perempuan, aku hanya menganggap mereka sebatas teman saja. Hal itu yang membuat aku berbeda dengan teman-tedak lebih. Tidak tahu kenapa, satu-satunya hal yang membuat aku senang adalah saat aku bersama ayah, apalagi saat aku lagi berdua dengan ayah, hal itu yang membuat hatiku merasa bahagia. Tidak seperti saat ibu datang dan mengambil penuh perhatian ayah. Meski ayah bilang “hanya untuk dua hari saja” tapi tetap saja aku merasa cemburu dengan kedatangan ibu.

Jumat, 07 Oktober 2011
          Pagi ini aku bertemu dengan pelajaran ekonomi lagi, dan seperti biasa setiap pulang sekolah Ibu Rika selalu memberikan jam pelajaran tambahan untuk murid-muridnya. Akupun mulai bingung mencari alasan apa agar aku bisa cepat tiba dirumah. Dan supaya Ibu Rika tidak menanyakan lagi kenapa aku pulang terlebih dahulu daripada teman-teman yang lain. Akupun mendapat ide cemerlang.
          Saat jam pulang sekolah tiba, aku langsung menemui Ibu Rika untuk meminta izin agar aku bisa pulang. Aku bilang kepada Ibu Rika kalau aku harus membeli obat untuk ayah ke apotek yang ada di pusat kota. Akhirnya Ibu Rika mengizinkan aku juga, meski sebelumnya beliau sempat memasang wajah heran.
          Setibanya dirumah ternyata ayah sudah pulang terlebih dahulu, beliau sedang membereskan rumah untuk menyambut kedatangan ibu. Sebenarnya aku benci hal ini, aku benci saat ibu datang dan ia mengambil seluruh perhatian ayah dariku. Tapi mau tidak mau aku harus membantu ayah, supaya ayah dapat mengagumi aku dan tidak menganggap aku sebagai anak laki-laki yang malas. Aku berharap kalau ibu segera pergi dari kehidupan aku dan ayah, entah itu pergi kemana. Yang penting ibu harus pergi agar dia tidak mengganggu kedekatan aku dengan ayah.

Sabtu, 29 Oktober 2011
       Hari yang paling aku tidak sukai. Hari dimana ibu datang dari Jakarta. Tapi untuk kali ini ibu tidak datang dengan tangan kosong, ia membawakan buah tangan dari Jakarta berupa makanan khas Jakarta. Sebelumnya ibu jarang sekali pulang ke rumah dengan membawakan buah tangan seperti ini. Terakhir kali yang aku ingat kapan ibu membawakan buah tangan itu ketika aku berumur 15 tahun.
          Kali ini ibu berniat mengajak aku ikut serta dalam acara malam minggunya dengan ayah. Aku heran kenapa ibu tiba-tiba mengajakku. Sebenarnya aku malas mengikuti kegiatan mereka, apalagi saat aku melihat ibu menggandeng ayah dengan mesrannya. Hatiku seolah-olah merasa dibakar. Tapi karena ayah yang merayu, dengan berat hati aku mengikuti mereka berdua.
          Di sebuah Mall di pusat kota Cilegon, aku hanya bisa melihat kemesraan mereka dari belakang. Aku malas mendekati mereka berdua yang sedang asik-asiknya pacaran, seperti anak muda lagi. Aku berharap besok ibu cepat-cepat kembali ke Jakarta. Bahkan kalau perlu ibu tidak usah kembali ke Cilegon lagi untuk selamnya. Entah setan apa yang merasuki pikiranku sehingga aku bisa berpikir seperti ini kepada orang yang telah melahirkanku ke dunia ini.

Minggu, 09 Oktober 2011
       Biasanya ibu berangkat dari rumah sekitar pukul 10:00 Wib, tapi untuk kali ini kenapa ia baru berangkat pukul 13:00 Wib nanti? Akh…aku lelah menunggu ibu agar cepat-cepat kembali  ke Jakarta. Ibu bilang kalau ia ingin lebih lama lagi dengan aku dan ayah. Aku sama sekali tidak menghiraukan perkataannya. Aku menganggap perkataan ibu hanya alasan belaka.
          Tepat jam 13:00 Wib Akhirnya ibu berangkat juga. Tetapi setengah jam kemudian telepon rumah berbunyi. Ayah mengangkatnya, namun beberapa saat kemudian wajah ayah berubah pucat, telepon yang sebelumnya dia genggam kini terlepas dari tangannya. Aku mendekati ayah dan bertanya siapa yang menelpon sehingga membuat ayah menjadi shock seperti sekarang.
“Tadi telepon dari polisi, Prim.” Kata ayah mencoba menahan air matanya.
“Memang ada keperluan apa polisi menelpon kita, yah? Lalu kenapa ayah menjadi shock seperti ini setelah menerima telepon tadi?” Tanyaku dengan penuh kecemasan.
“Ibu kamu…”
“Kenapa dengan ibu, yah?” Tanyaku semakin heran.
“Ibu kamu meninggal, Prim.” Kata ayah yang sudah tidak mampu menahan air matanya.
          Aku kaget mendengar berita itu. Namun entah kenapa hatiku tidak merasakan kehilangan yang begitu mendalam seperti ayah. Aku malah senang mendengar berita itu. Aku senang ibu telah tiada. Itu berarti hanya tinggal aku dan ayah. Aku akan menghabiskan sisa hidupku bersama ayah. Hanya berdua. Tidak ada lagi orang yang mengganggu ketenanganku lagi.
***