Senin, 09 Januari 2012

Ketidakadilan

Oleh: Gita Farannisa

Pertama kali aku melihatnya saat aku sedang lari sore di Jogging Track. Wanita itu duduk di rerumputan sambil menekukkan lututnya, kepalanya ia tutupi dengan kedua tangannya. Di tangan kirinya terdapat bekas luka bakar. Sedangkan disiku kanannya ada bekas luka yang membuat siku itu bernanah.

Karena merasa iba, aku pun menghampirinya. Namun semakin aku mendekati wanita itu, semakin aku mencium bau busuk yang begitu menganggu indra penciumanku. Baunya seperti bau bangkai tikus yang sudah berhari-hari didiamkan. Aku mengambil handuk kecil yang aku gantungkan dileher, aku beranikan diriku untuk mendekatinya dengan menutupi hidungku menggunakan handuk itu. Aku tahu cara seperti itu tidak sopan, tapi bau tubuh wanita itu benar-benar mengganggu hidungku.

"Permisi." Kataku.

Namun wanita itu tidak menjawab sapaanku. Dia hanya membuka tangannya yang dari tadi menutupi wajahnya dan menengok kearahku. Alangkah kagetnya aku ketika melihat wajah wanita itu yang penuh dengan luka. Entah bekas luka apa itu, aku tidak tahu.

"Ibu ngapain disini sendirian?" Tanyaku.

Dia berusaha menjawab pertanyaanku. Namun aku tidak bisa menangkap arti dari perkataan yang ia ucapkan. Bibirnya seolah-olah ingin mengatakan sesuatu kepadaku. Tapi apa? Tanyaku saat itu. Satelah aku teliti lagi, ternyata wanita itu tuna wicara. Badanku pun melemas.

Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan pada saat itu. Aku merasa kasihan terhadap wanita yang ada dihadapanku. Sepertinya ia disingkirkan karena fisiknya yang sudah tidak sempurna lagi dan keterbatasannya dalam berbicara.

Aku merogoh kantong calanaku, hanya tersisa selembar uang dua puluh ribuan. Tanpa pikir panjang lagi, aku menyodorkan uang itu kepadanya. Namun tiba-tiba seorang laku-laki menarik tanganku.

"Ngapin kamu disini?" Tanya laki-laki itu.
Aku tersentak.
"Siapa wanita ini? Badannya bau sekali."
"Anu mas, dia..."
"Ah sudahlah. Orang cacat dan bau seperti ini tidak pantas kamu tolong. nanti bisa-bisa kamu tertular olehnya. Mau kamu?" Gertak Mas Robi padaku.
Aku tidak bisa melawannya, dia memegang tanganku begitu keras dan menyeretku dengan paksa untuk menjauhi wanita itu.

Aku sempat menoleh kepada wanita itu, tatapannya begitu sedih, matanya berkaca-kaca. Mungkin hati kecilnya bertanya "kenapa semua orang menghinaku?"

Sampai detik ini, aku masih teringat oleh wanita yang aku temui di Jogging Track itu. Ingin sekali aku menolongnya, namun Mas Robi tidak mengizinkanku. Aku pun tidak bisa memaksakan kehendakku karena bagaimanapun juga mas Robi adalah suamiku.

note: Cerpen ini dibuat untuk memperingati hari HIPENCA (Hari International Penyadang cacat) yang jatuh pada tanggal 3 Desember
diikutsertakan dalam project Difabel @nulisbuku yang akan diumumkan pada tanggal 20 Januari 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar